Dunia terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Ada dua hal yang mungkin
muncul karenanya. Pertama adalah saling membunuh karena berpikir budaya
mereka sendiri adalah yang terbaik.
Kedua adalah saling merayakannya sebagai suatu rahmat dari realitas
hidup yang multicultural (beragam suku dan budaya). Semua masyarakat
yang multi cultural dihadapkan pada pilihan ini. Saling bermusuhan
karena perbedaannya atau justru saling belajar satu sama lain?
Sejarah menunjukkan banyak perang dan genocide terjadi, salah satunya,
karena sebagian orang berpikir bahwa budaya dan suku bangsa mereka
sendiri adalah superior (terhebat).
Tahun 1940-an Hitler di Jerman adalah salah satunya. Hitler percaya ras
dan budaya Jerman adalah yang terhebat di dunia. Karena kepercayaan ini,
ia meyakini semua ras dan budaya lain harus dimusnahkan. Hitler
kemudian membentuk gas-gas chamber bagi menghabisi semua orang bukan
asli dan kelompok minoritas di Jerman. Hasilnya lebih dari 2 juta
manusia dibunuh secara massal dengan gas beracun and perang dunia ke II
meledak.
Tahun 1994 hal yang sama juga berlansung di Rwanda di Afrika. Suku Hutu
membunuhi suku Tutsi karena meyakini suku mereka adalah yang terbaik.
Lebih dari 800 ribu orang dibunuh, puluhan ribu perempuan diperkosa
untuk ditularkan penyakit AID, ratusan ribu dipotongi tubuhnya agar
menjadi cacat seumur hidup. Genocide di Rwanda ini menjadi salah satu
sejarah tergelap bagi Afrika dan dunia.
Tapi sebaliknya sejarah juga pernah memberikan gambaran lain dimana
hidup yang toleran dan saling menghargai antarsesama menjadi sumber
kemajuan. Di Spanyol sebelum tragedi naiknya Ratu Isabella tahun 1480,
Andalusia adalah simbol dari kerukunan hidup antara Yahudi, Nasrani dan
Islam. Saat itu, semua orang berbeda suku dan agama bisa hidup bebas
disana. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan menjadi maju karena semua saling
belajar dari budaya yang lain.
Berbagai penemuan baru didapatkan dari kerja bersama ahli fisika Islam,
ahli matematika Yahudi dan ahli filsafat Kristen. Banyak juga hasil seni
hebat diproduksi dari perpaduan kebudayaan ketiga agama. Hal yang sama
juga pernah berlansung di India, di zaman Moghul Empire.
Akibat kerukunan hidup, hasilnya adalah produksi seni dan budaya, serta
Taj Mahal yang menjadi salah satu istana terindah di dunia. India pada
saat itu juga menjadi pusat perkembangan kebudayaan yang sangat dinamis.
Pelajarannya adalah ketika semua merayakan perbedaan dari suku, bahasa
dan agama sebagai sesuatu yang baik bagi kehidupan, itu akan jadi sumber
kemajuan. Tapi sebaliknya ketika permusuhan yang dikembangkan hasilnya
adalah kematian dan peperangan.
Kemajemukan adalah salah satu alasan dari sejarah kemajuan beberapa
negara besar sekarang termasuk Amerika dan Eropah. Amerika adalah contoh
paling menarik disini.
Pada awal kelahirannya, Amerika dibangun dengan keringat dari para
pendatang dan para imigran yang terusir dari berbagai belahan dunia.
Berbagai jenis pendatang berlombalomba menunjukkan yang terbaik di
negeri barunya. Persaingan sehat para pedatang ini
menjadikan mereka adikuasa secara ekonomi, sebelum akhirnya menjadi
adikuasa secara politik. Pengalaman dunia dan pelajaran sejarah ini
adalah sangat berguna bagi Aceh. Aceh berada persimpangan kebudayaan dan
beragam manusia sejak lama.
Posisi strategis Aceh secara territorial membuat banyak orang selalu
datang dan berinteraksi dengan rakyatnya. Berada di titik strategis
persimpangan dunia, kota pelabuhan yang berpotensi, Aceh di masa dulu
adalah selalu akan menjadi tempat singgah dari banyak orang.
Anthony Reid, sejarawan Aceh, dalam beberapa bukunya menggambarkan
saudagar Cina, pengusaha Eropa, orang Arab and India adalah pengunjung
rutin dari kota pelabuhan Aceh. Aceh masa dulu adalah mungkin seperti
Singapore masa sekarang ini. Karena kenyataan ini, sebagian bahkan
berpendapat asal usul nama Aceh adalah dari singkatan Arab, Cina,
Eropah, and Hindia.
Karenanya proses integrasi berbagai budaya dan berbagai orang adalah
keniscayaan dalam sejarah Aceh. Sejarah menunjukkan orang Aceh adalah
masyarakat yang multi cultural dan kosmopolit. Berbeda-beda, ada turunan
Cina, Arab, India dan Eropa tapi mereka semua bisa hidup satu sama
lain, bertentangga, saling menghormati.
Aceh saat itu adalah terbuka bagi siapapun, tanpa memandang jenis agama,
suku dan warna kulit. Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di
Aceh tidak pernah membuat takut pihak luar dan kelompok minoritas di
Aceh. Islam di Aceh tidak pernah menjadi hambatan bagi pergaulan dengan
berbagai bangsa dan suku. Ia tidak juga pernah memaksakan. Hasilnya
adalah Aceh yang tidak keras dan fundamentalis (ekstrim).
Ketika utusan raja Inggris, James Walace, datang untuk persahabatan, ia
disambut dengan penuh hormat, disediakan tempat mulia, di bikinkan
pesta. Utusan Inggris begitu terkesan dengan keramahan orang Aceh. Tapi
Aceh juga bisa menjadi keras terhadap pendatang yang masuk untuk
memusuhi.
Keras terhadap asing bukan karena berbeda agama, bangsa dan suku dengan
mereka, tapi karena mereka datang untuk mencanangkan perang dan
permusuhan. Makanya ketika Kohler datang untuk menjajah Aceh, ia dilawan
dengan gagah berani dan ditembaki. Seandainya Kohler datang untuk
perkawanan, mungkin kenduri dan pesta adalah sambutan kepadanya.
Sekarang sejarah sedang berulang. Paskatsunami dan paska-MoU Helsinki,
Aceh kembali lagi didatangi berbagai jenis orang, dari berbagai suku,
agama, warna kulit.
Pertanyaan yang muncul kemudian apakah rakyat Aceh akan melihat ini
sebagai ancaman atau peluang untuk merayakannya bagi belajar satu sama
lainnya? Ada sebagian orang yang melihatnya sebagai ancaman. Mereka
terus mepropagandakan bahwa orang asing yang datang adalah musuh yang
harus diusir pulang. Propaganda ini adalah sesuatu yang sangat tidak
mendasar.
Musibah tsunami dan konflik adalah penyebab kedatangannya. Mereka datang
karena percaya dengan suatu nilai universal tentang humanitarianism,
bahwa semua manusia sama dan perlu dibantu. Bahwa mereka punya
kebudayaan dan suku yang berbeda adalah benar, tapi semua adalah
manusia, dan manusia yang satu wajib membantu manusia lainnya.
Humanitarianism menempatkan semua manusia sebagai setara dan sama, tanpa perbedaan warna kulit, suku dan agama.
Disisi lain, kedatangan mereka sebenarnya juga akan membuka peluang bagi
rakyat Aceh untuk belajar yang baik dari budaya orang lain. Nenek
moyang terdahulu rakyat Aceh justru melihat keragaman berbagai suku dan
agama yang mengunjungi Aceh sebagai potensi untuk perpaduan. Yang bagus
dari berbagai budaya diambil menjadi sesuatu yang baru dan dipakai untuk
cara hidup yang lebih baik.
Pernyataan yang bilang bahwa budaya Aceh yang terbaik di dunia adalah
bohong. Begitu juga pernyataan sebaliknya yang bilang bahwa budaya asing
adalah terbaik didunia juga bohong. Setiap budaya punya sisi baik dan
buruknya.
Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai sintesis baru adalah cara
yang bijak, daripada menolaknya semena-mena. Terhadap budaya orang dan
diri sendiri, philosophy yang baik adalah tidak merasa inferior (rendah
diri) dengan budaya sendiri, tapi juga tidak merasa superior (paling
hebat) dengan budaya sendiri.
Beranilah belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri. Philosophy
ini penting bagi masa depan Aceh di dunia yang global sekarang ini. Masa
depan dunia adalah masyarakat yang multicultural. Dunia kedepan
dihadapkan pada kenyataan bahwa kita harus hidup berdampingan satu sama
lain.
Koneksi antara satu belahan dunia dengan belahan dunia yang lain semakin
dekat. Kehidupan multicultural Aceh adalah modal yang harus dijaga.
Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama,
dan suku bangsa.